SEJARAH PULA ARENA - ASAL USUL & PERISTIWA BERSEJARAH

Pula Arena: Amfiteater Romawi Kuno di tepi laut

Terletak di Kroasia, Pula Arena adalah salah satu amfiteater Romawi yang paling terawat di dunia. Arena ini pernah menjadi tuan rumah pertarungan gladiator dan acara-acara publik. Arena ini dapat menampung sekitar 23.000 penonton. Saat ini, tempat ini berdiri sebagai simbol arsitektur Romawi dan warisan Kroasia. Kapan mengunjungi Pula Arena, wisatawan dapat menjelajahi lengkungan bersejarahnya dan membayangkan tontonan kuno saat mereka berjalan melalui koridor yang sama di mana gladiator pernah berdiri. Pula Arena juga merupakan tempat yang populer untuk konser dan festival, yang memadukan sejarah dengan budaya modern.

Pembangunan Pula Arena

Pula Arena dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Vespasianus (69–79 M). Arena ini merupakan bagian dari ekspansi Roma di Dalmatia, termasuk wilayah Istria. Dibangun dari batu kapur lokal, amfiteater ini memiliki bentuk elips. Panjangnya 132 meter dan lebarnya 105 meter. Fasadnya setinggi sekitar 32 meter dan memiliki tiga lantai. Lantai teratasnya memiliki lengkungan-lengkungan yang dulunya menopang kanopi untuk menaungi penonton.

Bangunan abadi yang dibangun untuk bertahan lama

Amfiteater di Pula merupakan salah satu dari sedikit arena kuno di dunia yang masih utuh sepenuhnya di semua sisinya dan menempati peringkat keenam terbesar di dunia. Pertanyaan umum mengenai bangunan ini adalah bagaimana ia dapat bertahan selama ribuan tahun dengan kerusakan yang sangat minim. Salah satu alasan utamanya terletak pada pemilihan bahan bangunan. Amfiteater Pula sebagian besar dibangun menggunakan batu kapur. Bahan-bahan ini bersumber dari daerah setempat dan mencerminkan metode konstruksi khas Romawi yang dirancang untuk memperkuat dan melestarikan bangunan-bangunan mereka. Lengkungan arena merupakan ciri khasnya, yang dirancang secara ahli untuk menahan beban berat dari atas, sebuah teknik yang banyak digunakan di amfiteater Romawi.

Area bawah tanah

Hypogeum di bawah arena terdiri dari jaringan terowongan dan ruangan. Area-area ini digunakan untuk menyimpan kandang hewan liar dan menampung gladiator sebelum mereka tampil di arena. Saat ini, ruang-ruang bawah tanah tersebut menjadi tempat pameran permanen berjudul “Budidaya Anggur dan Produksi Minyak Zaitun di Istria Selama Masa Romawi”. Pameran ini menampilkan alat-alat Romawi yang telah direkonstruksi, penggilingan zaitun, alat pemerasan anggur, serta amphora yang digunakan untuk menyimpan dan mengangkut minyak zaitun serta anggur. Pameran ini memberikan wawasan kepada pengunjung mengenai praktik-praktik pertanian di Istria kuno.

Legenda Gedung Divic

Ada sebuah legenda yang menceritakan bahwa dahulu kala di Istria, terdapat peri-peri yang bekerja di malam hari. Mereka menari di padang rumput dan hutan, dan terkadang menampakkan diri kepada manusia, namun tidak pernah menyakiti siapa pun. Menurut legenda, peri-peri ini dapat membawa kebahagiaan dan merupakan pembangun yang hebat. Konon, peri-peri inilah yang membangun Arena Pula. Mereka mengangkut batu sepanjang malam dan menyusunnya dalam lingkaran untuk membangun kota mereka yang bernama Kota Divic (kata “diva” dalam bahasa Slavia kuno berarti keajaiban). Namun, karena mereka adalah makhluk malam, mereka hanya bisa bekerja hingga ayam jantan berkokok. Ketika ayam jantan berkokok, mereka harus berhenti bekerja dan melarikan diri sebelum manusia melihat mereka.

Karena hal ini, Divic-city tidak pernah selesai dibangun, dan itulah sebabnya Arena tersebut tidak memiliki atap hingga saat ini. Di seluruh Istria, masih terdapat batu-batu besar di tempat-tempat di mana para peri menjatuhkannya setelah kokok ayam menghentikan pekerjaan mereka. Kisah ini kemungkinan bermula karena orang-orang kagum dengan Arena tersebut dan menganggapnya sebagai keajaiban.

Arena pada Zaman Romawi

Pada zaman kuno, Arena Pula menjadi tempat pertarungan gladiator, perburuan hewan, dan pertunjukan umum. Acara-acara ini menghibur para penonton sekaligus menunjukkan kekuatan dan budaya Romawi. Orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat berkumpul di sini untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Sebagian besar gladiator adalah mantan budak atau penjahat, namun ada pula warga negara merdeka yang sukarela ikut serta demi kesempatan meraih kemuliaan abadi. Dipercaya bahwa kadang-kadang perempuan juga ikut serta dalam pertunjukan tersebut!

Nasib Arena pada Abad Pertengahan

Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat, arena ini sebagian besar digunakan sebagai tempat penggembalaan hewan yang menjadi sumber pangan bagi penduduk setempat. Sesekali, pameran diadakan di sana. Pada abad ke-14, perekonomian dan populasi Pula mengalami penurunan, sehingga arena ini menjadi kurang penting. Penyakit malaria menghambat pertumbuhan kota, sehingga pembangunan baru hampir tidak dilakukan. Kurangnya pembangunan ini justru membantu melestarikan dinding luar arena, yang masih berdiri hingga saat ini. Lengkungan dan jendelanya memperlihatkan keindahan dan kekuatan arena di masa lalu.

Bertahan Selama Bertahun-tahun

Sekitar tahun 1260, Patriark Aquileia menjatuhkan denda kepada orang-orang yang mengambil batu dari amfiteater tersebut. Kemudian, pada tahun 1458, dewan kota Pula mengeluarkan undang-undang untuk melarang orang menggunakan atau menjual bagian-bagian batu dari amfiteater tersebut. Sebagian besar batu tersebut telah digunakan untuk membangun istana dan alun-alun selama masa pemerintahan Venesia.

Terlepas dari upaya-upaya tersebut, selama berabad-abad berikutnya, banyak batu dari amfiteater tersebut terus diambil dan digunakan untuk keperluan lain. Pada abad ke-19, sekitar tahun 1840, masyarakat mulai khawatir bahwa Amfiteater Pula akan lenyap sama sekali. Batang-batang besi yang berfungsi memperkuat dinding luar dilepas, dan balok-balok besar dari area tempat duduk diambil sebagai bahan bangunan. Akibatnya, amfiteater tersebut pada dasarnya telah berubah menjadi tambang batu berharga.

Kisah tentang dasi terbesar di dunia

Pada abad ke-17, orang Kroasia mengenakan bandana khas di leher mereka sebagai bagian dari seragam tradisional mereka. Merupakan kebiasaan bagi para wanita untuk memberikan bandana ini kepada orang-orang yang mereka cintai sebelum mereka berangkat ke medan perang, sebagai simbol kesetiaan dan ketulusan. Seiring berjalannya waktu, dasi berevolusi menjadi simbol keanggunan dan gaya di seluruh Eropa.

Pada 18 Oktober 2003, Pula Arena menjadi lokasi pembuatan dasi terbesar di dunia. Dasi yang diberi nama “Kravata oko Arene” ini memiliki panjang 808 meter dan lebar 25 meter, terbuat dari 9.015 meter persegi kain berwarna merah. Hampir seratus anak turut membantu membentangkan dasi raksasa tersebut di sepanjang tepi pantai Pula.

Pula Arena hari ini

Saat ini, Pula Arena adalah objek wisata populer dan tempat yang ramai untuk berbagai acara. Salah satu acara yang paling terkenal adalah Festival Film Pula, yang dimulai pada tahun 1954 sebagai Festival Film Yugoslavia. Setelah berhenti sejenak pada tahun 1991, festival ini kembali lagi pada tahun 1992 sebagai Festival Penghargaan Film Kroasia, yang lebih dikenal dengan nama Festival Film Pula.

Selain film, arena ini juga pernah menjadi tuan rumah pertunjukan musik langsung oleh artis terkenal seperti Luciano Pavarotti, Jose Carreras, Sting, dan Dua Lipa. Meskipun konser-konser ini sangat berbeda dengan pertarungan gladiator pada zaman Romawi kuno, namun memiliki tujuan yang sama: untuk menghibur penonton. Dengan cara ini, Pula Arena masih berfungsi sesuai dengan tujuan awal pembangunannya oleh bangsa Romawi. Namun, jika Anda lebih suka menikmati arsitektur amfiteater yang megah dan jauh dari keramaian, Anda dapat memesan Tiket dan tur Pula Arena untuk menemukan momen kedamaian dan ketenangan di antara batu-batu kuno sebelum perayaan malam hari dimulai.

Pelajari lebih lanjut tentang Pula Arena dan sejarahnya!

Book our Pula Arena guided tour or skip-the-line entry ticket!
dari
Rp 2309164

Pemandu Wisata Langsung

Tur Berpemandu Arena Pula

Bergabunglah dengan tur Pula Arena dan masuklah ke dalam amfiteater kuno berusia 2.000 tahun. Lihatlah tempat 20.000 orang pernah menyaksikan pertempuran gladiator. Telusuri keempat menara aslinya, dan jelajahi terowongan bawah tanah dengan artefak Romawi. Dengarkan kisah nyata tentang masa lalu dan transformasinya menjadi pusat budaya dari pemandu langsung. Pesan tempat Anda dalam tur ini dan jelajahi landmark paling ikonik di Pula dari dekat!

dari
Rp 208032

lewati tiket antrean

Tiket Lewati Antrean Arena Pula

Temukan amfiteater Romawi kuno dengan tiket masuk prioritas Pula Arena. Dapatkan akses ke amfiteater dan area gladiator bawah tanah. Lihat artefak asli era Romawi dan jelajahi 2.000 tahun sejarah di pameran permanen. Dengan tiket Pula Amphitheatre, Anda akan mendapatkan kunjungan yang lengkap dan mudah ke landmark ikonis ini. Dapatkan tiket masuk Anda hari ini dan masuklah ke dalam sejarah!